Senin, 16 Juni 2014

Japan -Playground-

Seneng banget waktu tau ternyata tidak jauh dari apartemen terdapat playground. Jalan kaki sebentar saja sudah sampai. Kalau pagi sekitar jam 10, basanya dipenuhi oleh anak-anak kecil dari sekolah TK di sini. Guru-guru mengajak anak-anaknya bermain di sini. Dengan ciri khas memakai topi berwarna neon, seperti oranye dan kuning, jd para guru bisa memantau anak-anaknya bermain. Kalau sore hari, dipenuhi oleh anak-anak komplek.
Playground selain bersih, juga banyak mainan, ada beberapa perosotan, jungkat jungkit, tempat bermain pasir, sampai buis beton. Persis seperti yang saya tonton di serial doraemon. Di sini juga dilengkapi oleh toilet dan keran air minum.
Pohon-pohon yang ada di sini sangat rindang, sehingga ketika cuaca sedang terik, anak-anak bisa tetap bermain dengan senang.
Selain anak-anak yang bermain di sini, baik beramai-ramai dengan teman sebayanya atau bersama orang tua mereka, kadang-kadang saya juga melihat orang-orang yang baru pulabg kerja duduk-duduk di kursi taman.
Seandainya di dekat rumah ada playground seperti ini, pasti tidak repot bawa anak ke arena bermain yang biasanya ada di mall. Tidak gratis. That's the point :) 

Read More

Senin, 02 Juni 2014

A Domestic Engineer

Sebelumnya mohon maaf kepada para engineer yang kebetulan membaca tulisan ini, saya sama sekali tidak ada niat untuk menyinggung ataupun merendahkan profesi anda. Saya tau banget kok beratnya jd mahasiswa teknik, molor satu semester mah udah biasaaaa ( mencari pembelaan diri nih :p)
Saya baru saja mengganti bio di akin twitter saya. Kenapa diganti? Ya kan bio sebelumnya tuh : a five days working mom, tp sekarang kan I'm no longer a working mom, jd ya harus di ganti. Sudah hampir sebulan sih sebenernya, tapi baru dapet wangsit. A DOMESTIC ENGINEER Yeeaahh...I'm a domestic engineer. Kalo menurut Urban Dictionary, definisi domestic engineer adalah : a term for a housewife or stay at home mom (or dad). Tapi sebenarnya pemakaian kata ini sendiri sih banyak menuai pro dan kontra. Yang penasaran silakan googling deh. Saya gak akan membahas perdebatan pemakaian kata domestic engineer.
Emang sebegitu pentingnya ya, Bu, ngebahas bio twitter. Gak jg sih, cuman biar tulisannya bisa menuh-menuhin blog aja, hahahahaa. Sebenarnya kan kalopun ditulis Ibu rumah tangga, atau stay at home mom, ato apa ajalah kan gak apa-apa. Tp kalo full time mom kok kayaknya saya ga gitu sreg ya, kan ga ada part time mom toh?
Gimana rasanya biasanya rutinitas kerja kantoran trus sekarang hanya di rumah aja? Pastinya kaget lah ya, secara biasanya pagi-pagi udaha grubak grubuk nyiapin sarapan, nyiapain anak sekolah, anter anak sekolah, trus langsung ngantor. Sekarang lebih nyantai. Bosen??? Dulu pas kerja kantoran juga pernah bahkan sering bosen kok, apalagi doing emak-emak stuff all day gini, ya pasti ada saat-saat bosennya lah. Bedanya kalo pas bosen di kantor cuman bisa manyuuuuun aja, sekarang kalo bosen bisa main sama anak, bisa ngenet, baca buku, bikin kue, dan banyak pilihan kegiatan buat ngusir bosen.
Sebelum resign udah ngayal akan punya banyak waktu buat nulis ato baca buku. Kenyataannya??? Hah, ternyata kenyataan gak seindah khayalan. Hahahaaa...
Suatu hari pernah nanya sama Misua. Lebih suka saya kerja kantoran apa saya di rumah aja? dan jawaban beliau gini: " Saya suka kamu yang enjoy dalam melakukan apapun, waktu kamu kerja di kantor itu kamu tidak terlihat enjoy,  tapi sekarang kamu terlihat lebih menikmati hidup." Baiklaaaahhh, Jendral!
Ya sudah lah ya, gak penting mo statusnya apa aja, yg penting bahagia. Gak penting juga pas kerja kantoran  gak diakuin sebagai engineer yang penting sekarang kan jadi domestic engineer, dan yang paling penting sekarang kan udah jadi istrinya engineer. Hahahahaaaaaaa


Read More

Sabtu, 24 Mei 2014

Japan - Part 1-



Hellooo...
Semoga blognya gak jamuran karena jarang ditengokin, hehehee... Kali ini ngeblognya di sebuah apartemen di Tokyo. Ciieeee.....
Iya, kesampaian juga akhirnya mimpi pergi ke Jepang. Thank you, Jendral for making my dream come true. Hari ini sudah minggu ketiga kita sekeluarga di sini. Setelah resmi resign, saya dan si kecil langsung nyusul Pak Suami yang sudah duluan ke Jepang.
Tiga minggu lalu pas awal-awal dateng, udara masih dingin meskipun katanya sudah masuk summer. Sekarang udah lumayan anget meskipun msh terasa dingin, kadang-kadang hujan.
Ada banyak hal-hal baru yang dijumpai selama di sini, antara lain: (maap, kalo salah, ini kan cuma menurut pengamatan saya yg baru 3 minggu di Tokyo)
Tentang trasportasi:
  • Keretanya nyaman dan tepat waktu. Iya, tepat bangeeeedd. Misal di jadwalnya 11.32, ya pas jam segitu keretanya dateng.
  • Jalur keretanya mbulet, banyak banget jalurnya (koridor kalo istilah transjakarta). Saya bergantung sama peta tiap kali jalan-jalan.
  • Selama di sini, saya pakai kartu Suica, yang bisa dipakai untuk semua jalur kereta dan bis. Bahkan bisa dipakai untuk bayar taksi, belanja di supermarket, dan beli minuman di vending machine yang mana banyaaaaak banget di sini.
  • Jalur pejalan kaki di sini nyaman banget, jalan ke stasiun yang hampir 900 meter jadi gak berasa. Kapan Indonesiaku bisa seperti ini. (kl di Indonesia jalan dari rumah ke pasar yang cuman 500 meter aja males gegara ga ada trotoar)
  • Macet?? Apa itu macet?? Mungkin karena transportasi umumnya bagus, jadi jalanan gak semacet di Jakarta.
 Tentang makanan
  • Di sini makanan halal susaaaaah banget. Grocery shopping adalah hal yang paling bikin pusing. Karena hanya mengandalkan capture-an gambar dari facebook Halal Japan, saya harus nyocokkan gambar, secara ga ngerti tulisannya. Di sini label makanan hanya tertulis dalam huruf jepang. Kalo di Indonesia kan selain bahasa Indonesia, kadang-kadang suka ada bahasa Inggrisnya.
  • Harga bahan makanan jika dibandingkan dengan Jakarta jauh lebih mahal, bisa 2 atau 3 kali lipatnya. Selama di sini, tiap hari masak. Pak Suami juga tiap hari bawa bekal untuk makan siang ke kantor. Selain lebih irit, insyaallah halal.
  • Ramen??? hahahaaa yang pasti belum pernah makan ramen di sini (padahal pengen). Masih tetep penasaran makan ramen di sini, mungkin harus nyari ramen untuk vegetarian jadi lebih aman.
  • Beli daging sapi atau ayam biasanya nitip Pak Suami kalo lagi jumatan ke Balai Indonesia. Kadang saya juga ikut. Di sana ada kantin yang jualan makanan halal dan frozen food seperti ayam dan daging sapi yang halal. Semoga tetep istiqomah untuk berusaha mencari makanan yang halal.
Tentang orang-orangnya 
  • Jepang memang terkenal dengan busananya yang agak nyeleneh, tapi ternyata di balik itu pakain orang-orang kantorannya rapi banget. Para laki-laki umumnya memakai setelan jas, hampir semua memakai jas. Yang perempuan pakaiannya juga rapi.
  • Kalau di kereta, meskipun sudah tersedia kursi khusus untuk manula, orang sakit, ibu hamil dan ibu bawa anak, tetap saja jarang sekali yang mau memberi kursi. Hampir semua orang di kereta sibuk dengan henponnya. Saking sibuknya sampai-sampai gak peduli sekitar. Dada orang tua, atau anak-anak tetap saja gak peduli. Nah, kalo yang seperti ini di Indonesia hampir sama, jadi gak kaget. Tapi masih ada kok yang bebaik hati memberikan tempatnya, dan untungnya jarang sekali dapet kereta yang penuh, jadi biasanya tetap dapet tempat duduk.
itulah beberapa hal baru yang saya temui selama di sini. Mungkin masih banyak sebenarnya kebiasaan-kebiasaan di sini yang saya belum tau. Selama tiga minggu sudah ke mana aja? nanti deh dilanjut di part selanjutnya. See ya :)

Jalur pejalan kaki yang nyaman

Jalur pejalan kaki yang nyaman




Macet?????

sepotong langit Tokyo di pagi hari


Read More

Rabu, 16 April 2014

2 weeks notice

Hari ini, dua minggu lagi saya resmi berhenti dari pekerjaan saya. I'm a stay at home mom to be.

Why tika? Why?

Sebenarnya memutuskan untuk berhenti bekerja bukanlah pilihan yang gampang buat saya. Sudah 9 tahun saya jd wanita pekerja. Empat tahun belakangan ini saya jalani dengan meninggalkan anak di rumah dengan pengasuhnya. Setiap hari selalu merelakan dia dibawah pengasuhan orang lain sambil berdoa, "Ya Allah, jagakanlah dia".
Setiap sore, selalu berjibaku dengan padatnya jalanan ibukota, berharap dan berdoa dalam hati, "Traffic, please be kind to me today. I have to arrive at home soon and safely".

Saya adalah orang yang harus tau limit diri saya sendiri agar saya bisa melewatinya. Tapi dalam kasus ini, silakan bilang saya gampang menyerah, silakan bilang saya tidak mampu break the limit. Tapi limit saya untuk jadi ibu tak terbatas. Saya merasa, saat ini anak saya lebih membutuhkan saya. Perusahaan tempat saya bekerja pasti dengan mudah mencari pengganti saya, tapi saya ini tidak bisa tergantikan bagi anak saya.

So, Boss, I'm sorry goodbye.....

Takut? Iya saya takut. Saya ini lembam, tidak suka perubahan. Tapi saya tau, apapun yang terjadi dunia akan terus berputar. Saya menjalani ini tidak sendiri. Ada seorang laki-laki yang terus mendukung saya. Ada laki-laki yang sangat bahagia sekali ketika saya pada akhirnya membuat surat pengunduran diri. Ada seorang laki-laki yang nantinya akan bekerja lebih keras lagi demi menghidupi anak dan istrinya. Yes, it's you, Jendral. Thank you for always being you :) .

Dan ada seorang anak wedok yang selalu bersinar-sinar. Yang pasti akan lebih susah dihadapi dari pada setumpuk pekerjaan di kantor.

Sampai kapan? Sampai waktunya tiba saya bekerja kembali. Saat ini pasti akan lebih picky dalam mencari tempat kerja baru. Karena akan banyak pertimbangan, salah satunya jarak dari rumah.

Let's go dancing in the rain, Jendral. Welcome to our new journeys.

Read More

Selasa, 01 April 2014

Saya dan Si Mbak

Tulisan ini dibuat ketika nemenin si kecil yg lagi demam, si mbak sudah 3 hari ijin pulang kampung, dan suami yg tugas di luar kota. Saya yg sudah pakai seragam siap-siap mau berangkat akhirnya memilih ganti baju dan ijin tidak ke kantor hari ini.

Dilema si mbak (ART) pasti dialami hampir semua ibu-ibu yang pernah punya ART. Apalagi ibu-ibu pekerja seperti saya.
Menjaga hubungan dengan ART termasuk susah-susah gampang. Susah-susah gampang, berarti banyakan susahnya dari pada gampangnya, hahahaaa... Yah bagaimana tidak susah, cari ART bisa berbulan-bulan baru bisa dapat. Saya lebih memilih mencari ART lewat kenalan dari pada lewat yayasan. Setelah ART bekerja di rumah kita, kita harus menjelaskan peraturan serta kebiasaan di rumah. Dan yang paling penting, anak saya bisa beradaptasi dengan si mbak barunya ini.

Selama punya si mbak, saya bersaha memperlakukan dia seperti keluarga saya sendiri, bagaimana tidak karena sehari-hari dia tinggal dengan saya. Mengurusi keperluan anak saya. Jadi, saya ingin orang yang kerja di rumah saya merasa nyaman. Kenapa? Karena saya ini sebenarnya sama dengan dia, sama-sama pekerja.

Hampir 9 tahun saya menjadi karyawan di sebuah perusahaan swasta. Kasarnya, saya kerja ke orang. Bukan wiraswasta. Jadi intinya saya berusaha memperlakukan ART sebagaimana saya ingin diperlakukan oleh atasan dan perusahaan tempat saya bekerja. Tetapi, terkadang ada hal-hal yang tidak sesuai harapan. Hal-hal tersebut merupakan pelajaran buat saya agar saya tidak melakukan hal itu kepada ART saya. Dengan harapan agar dia nyaman bekerja dengan saya. Bukan kerja di bawah tekanan dan terpaksa bertahan demi uang bulanan saja.

Akhirnya hanya bisa pasrah dan berdoa semoga si mbak balik sesuai janjinya. Amin :)

Read More

Bermain Sambil Belajar



Suatu hari, saya mengajak si kecil ke tempat bermain yang ada di sebuah mall yang letaknya tidak jauh dari rumah. Seandainya ada pilihan untuk pergi ke taman kota, saya pasti akan mengajak anak saya ke sana. Tetapi di daerah saya belum ada fasilitas taman kota yang nyaman. Akhirnya, arena bermain di mall yang jadi alternatif saya untuk mengajak si kecil bermain di luar.

Banyak sekali wahana permainan di tempat ini, tetapi saya hanya memberi 3 kali kesempatan bermain kepada si kecil. Sebelumnya saya telah membeli 3 tiket, nanti si kecil akan memilih sendiri 3 wahana permainan yang paling disukainya. Awalnya, tiap kali ke sini selalu berakhir dengan tangisan si kecil yang tidak mau saya ajak pulang, dia masih kurang bermain di sana. Tetapi saya selalu menjelaskan, bahwa dia hanya bisa bermain 3 kali saja. Meskipun berkali-kali terjadi, akhir-akhir ini si kecil mulai mengerti, setelah 3 tiket habis dia pakai dia tidak menangis lagi ketika saya ajak keluar dari area bermain itu.Yah meskipun sekali-kali masih ada protes dari dia. Tetapi saya selalu mengatakan bahwa lain kali masih ada kesempatan lagi untuk bermain di sini. 

Ternyata, melatih anak-anak untuk bisa mengerti penjelasan kita itu bukan hal yang mudah. Harus diulang berkali-kali, tak jarang disertai oleh tangisan bahkan tantrum. Tekanan buat saya, sebagai ibunya, akan bertambah karena terkadang dia menagis dan tantrum di tempat umum. It's not easy to deal with it. Saya bukannya pelit hanya memberinya kesempatan bermain hanya 3 kali. Saya hanya ingin anak saya mengerti tentang komitmen, karena biasanya sebelum bermain, perjanjian di awal bahwa kita hanya bermain 3 kali saja. Selain itu, saya ingin mengajari si kecil tentang prioritas. Dengan hanya punya 3 kali kesempatan, dia akan memilih wahana permainan mana saja yang dia suka dari sekian banyak permainan yang ada di sana.

Banyak sekali pelajaran yang sebenarnya bisa kita ajarkan kepada si kecil sambil berjalan-jalan. Selain hal yang sudah saya sebut di atas, saya bisa mengajari si kecil untuk mengantri. Mulai dari antri ketika membeli tiket, dan antri ketika akan masuk ke sebuah wahana permainan. Tetapi sering saya dibuat jengkel oleh ulah orang tua lain, yang dengan seenaknya menyerobot antrian membeli tiket. Lebih parahnya, terkadang di depan pintu sebuah wahana permainan, seorang ibu menyuruh anaknya untuk menerobos antrian. Ketika saya melihat hal-hal yang seperti itu, saya hanya bisa bilang kepada si kecil, bahwa itu contoh yang salah, kita tidak boleh seperti itu.

Seharusnya kita, sebagai orang tua, yang memberikan pelajaran-pelajaran tentang kebaikan. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita lakukan bersama anak akan membentuk watak dan karakter anak. Si kecil adalah peniru ulung, dia akan menirukan apa yang kita lakukan, apa yang kita bicarakan. Saya sadar, saya bukanlah manusia yang sempurna, tetapi setidaknya saya berusaha untuk selalu menjadi yang lebih baik demi anak saya. Karena saya adalah guru pertama buat anak saya.
Read More

Kamis, 19 Desember 2013

Rumpi Ibu-Ibu

Kemarin, sekolah anak saya mengadakan acara outing ke Kebun Raya Bogor. Saya meliburkan diri dari kantor sehari saja demi mendampingi si kecil jalan-jalan ke Bogor. (Pak Bos, terimakasih atas pengertiannya). Di acara ini, saya bertemu dengan ibu-ibu yang lain, Ibu-ibu teman anak saya tepatnya. Terus terang ini pertama kalinya saya berkumpul dengan mereka. 
Bisa dibayangkan dong jika Ibu-Ibu berkumpul, rame pastinya. Ngobrol macem-macem, segala aspek IPOLEKSOSBUDHANKAM pun dibahas. Saya???? Saya merasa berada di lingkungan baru, hanya bisa lebih banyak diam, dan membisakan diri bahwa saya sudah harus bisa dan biasa berada di situasi seperti ini. Karena selama ini, lingkungan saya kan cuman rumah, kantor, dunia maya. Jadi ini adalah lingkungan baru buat saya, orang-orang baru buat saya. Saya harus bisa masuk ke lingkungan ini dan dengan orang-orang di dalamnya. Jadi apa masalahnya???? Jadi intinya apa??? Bukaaaann, ini bukan cerita jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Kalau mau itu, bisa googling, banyak kok yang nulis tentang KRB di blognya.
Ehhmm...bukan masalah sih sebenarnya, cuman mo sharing aja. Di sebuah kesempatan, saya ngobrol dengan seorang ibu dari teman sekelasnya si kecil, anaknya dan anak saya sama-sama di kelas Play Group. Intinya, dia menanyakan apakan saya akan tetap menyekolahkan anak saya di TK ini atau mau hengkang seperti halnya ibu-ibu yang lain. Whaaattt??? Saya sempat bingung dengan pertanyaan si Ibu tadi
Kemudian dia menjelaskan, kalau beberapa orang tua akan memindahkan anak-anaknya dari TK ini, dengan alasan apa yang di bayar tidak sesuai dengan apa yang di dapatkan. Oke, saya mulai penasaran doong... Dari beberapa alasan yang diceritakan si ibu bisa saya simpulkan seperti ini:
  1. Sekolah ini terkenal mahal kalau dibandingkan dengan sekolah-sekolah di sekitarnya
  2. Katering yang disediakan oleh sekolah menunya tidak sesuai dengan yang di bayar, masak anak-anak cuman dikasih tahu tempe terus.
  3. Orang tua anak-anak TK A, yang tahun depan akan masuk SD, mulai kawatir dengan perkembangan anak-anaknya yang belum jua lancar membaca.
Okelaaahh....saya hanya bisa ber "Ooooo..." saja. Kenapa??? mari kita bahsa satu-persatu sodara-sodara>
  1. Sekolah ini mahal?? Menurut saya, mahal tidaknya sebuah sekolah hanya bisa diukur dengan kemampuan keuangan tiap keluarga. Dan prinsip saya adalah, saya tidak mencari sekolah mahal, meskipun bisa dibilang kalau sekiolah mahal berarti kualitasnya pasti bagus. Tapi, saya mencari sekolah yang terjangkau. Terjangkau bagi saya secara keuangan, dan terjangkau secara jarak dari rumah dan sekolah, serta terjangkau di segi mutu sekolahnya. Untuk yang terakhir ini seperti ini maksudnya: Kita para orangtua, saya khususnya, ketika mencari sekolah untuk anak pasti ada sesuatu yang di dinginkan, misalnya mau sekolah yang bilingual, mau sekolah yang berbasis Islami, mau sekolah dengan sistim montessori, mau sekolah yang begini, yang begitu, yang pasti tiap orangtua punya keinginan yang berbeda-beda. Menurut saya, sekolah ini sudah "terjangkau" dari 3 aspek tadi. Sekolah ini adalah sekolah dengan basic Islami. TKIT (Taman Kanak-kanak Islam Terpadu), dilengkapi dengan Day Care, jadi saya bisa titipkan si kecil sampai sore karena saya bekerja, letaknya tidak jauh dari rumah. Tetapi sekolah ini tidak bilingual, yang menurut saya sih tidak apa-apa ya, karena mungkin akan lebih gampang jika si kecil kenak bahasa Indonesia dulu, nanti kalo mau ngomong enggres ya tinggal di les kan saja. 
  2. Masalah menu makanan. Sebelum saya memutuskan memilih sekolah ini untuk sekolah pertama si kecil, saya terlebih dahulu bertanya tentang makanan yang disajikan, apakah memakai MSG atau tidak, dan ternyata memang tidak memakai MSG. Itu saja yang waktu itu menjadi concern saya, masalah menu terserah apa saja. Jika sekarang ibu-ibu itu mengeluh menunya itu itu saja, karena katanya anak-anak di rumah sudah bisa makan makanan yang enak, dan di sekolah makanannya bisa saja. Jadi penasaran, EMANGNYA MEREKA MAKAN APA SIH??? Ya kalau saya pribadi sih ga masalah dengan menu makanan sekolah (setiap hari saya dapat laporan tertulis dari pihak sekolah tentang menu harian yang di makan anak saya) 
  3. Point ke tiga ini yang menurut saya paling penting. Merekan gelisah karena anaknya belum bisa membaca. PADAHAL saya gelisah dan ketakutan kalau-kalau anak saya diajari ca lis tung di sekolahnya. HAH?? Iya, saya tidak mau si kecil diajarin calistung. Bukannya tidak mau, tapi tidak sekarang. Saya sempat bertanya kepada Ibu guru, pakah anak saya sudah diajarin membaca? karena di suatu malam, si kecil minta saya untuk menulis huruf dengan garis putus-putus dan dia yang menyambungkan garis-garisnya. Ketika itu saya ketakutan, Lho kok udah diajari nulis sih?? Ternyata setelah saya konfirmasi, hanya pengenalan saja sekalian melatih motorik harus dan latihan memegang pinsil. Baiklaahh...amaann berarti. Saya menyadari ketakutan ibu-ibu yang lain, ibu-ibu yang nakanya sudah di TK A, dimana sekarang kan masuk SD sudah harus bisa membaca dan berhitung. Saya jadi mikir, kalau saya berada di posisi ibu-ibu itu bagaimana ya?? Ya pasti khawatir ya, tapi kan kita bisa bantu belajar membaca di rumah, kita bisa panggil guru privat ke rumah, atau kita bisa masukkan ke lembaga bantuan belajar yang sekarang sudah menjamur di sini. Mengapa harus menyalahkan sekolah ketika anak kita tidak mencapai sebuah titik yang kita harapkan? Kita tidak seharusnya menyerahkan 100% pendidikan anak kita pada sekolah. Sekolah bukan satu-satunya tempat belajar bagi anak-anak kita. KELUARGA adalah tempat belajar pertama dan selama-lamanya bagi anak-anak kita. Sekolah dan Guru hanya membantu kita, sebagai orang tua. Pemegang kendali penuh atas pendidikan anak tetaplah orang tua. Guru?? Mereka adalah partner kita. Kita harus bekerja sama dengan mereka.
Menurut saya, biarlah anak-anak berbahagia di masanya. Mereka harus benar2 bahagia, mereka harus merasakan bermain sepuasnya,karena nanti ada saatnya mereka memikul tanggung jawab untuk belajar.

Read More
Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.

© 2011 Me, My self and The Universe, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena