![]() |
| si kecil sedang menikmati pantai yang penuh dengan kapal di East Coast Park Singapura |
Rabu, 16 September 2015
SEKOLAH
Sabtu, 02 Mei 2015
Dear Diary
Rabu, 25 Februari 2015
Buku, Gadget, dan Anakku
Saya dan Pak Suami kebetulan bukan tipe yang melarang anak bergaul dengan gadget. Kami hanya membatasi, jadi anak punya waktu tertentu yang telah kita tentukan dan (terpaksa) dia setujui. Untuk tv pun, tiap hari dia nonton tv, karena kami melihat tidak semua tayangan tv itu negatif kok, jika kita sebagai orang tua mampu memilih tayangan apa yang menurut kita pantas buat anak-anak, mungkin dampak negatifnya tidak separah yang dibahas di beberapa artikel-artikel.
Saya termasuk orang yang suka membaca, dan saya ingin kebiasaan ini juga menular kepada anak saya. Jadi, selain mengenalkan dia dengan tab, nintendo saya juga mengenalkan dia dengan buku. Mungkin hasilnya belum terlihat sekarang, tapi saya berharap segalanya bisa berjalan dengan seimbang.
Jadi intinya, segala sesuatu memang harus kita fikirkan matang-matang. Kapan dan apa yang terbaik buat anak-anak hanya kita sebagai orang tua yang tau. Maka, tidak heran jika banyak sekali gaya asuh yang berbeda-beda. Bijaklah dalam menilai atau mengkritik gaya asuh orang tua yang lain. Karena prioritas masing-masing berbeda, kan? Karena kita juga punya pilihan yang sama susahnya dalam memilih mana dan apa yang terbaik buat anak kita. So, choose wisely, Parents.
Belajar Motret
Ulang tahun yang ke tigapul...tiiiittt *sensor* dapet hadiah Sebuah kamera dslr dari Pak Suami. Makanya pengen bgt bisa pake dslr. Bisa sih bisa ya pakenya, tp ga bisa move on dr mode auto. Hahahaaaa....brasa gak guna bgt pake dslr tapi pakenya mode auto terus. Makanya saya lg baca buku ttg dslr dan liat di video di youtube. Kursus? Iya sih kepikiran buat ikutan semacam short course, tapi blom ada waktu. Kenapa gak ikut komunitas fotografi yang sering hunting jadi bisa sekalian belajar? Kayaknya mendingan weekend-nya sama anak + suami aja. Rempong yak, pengen bisa tapi gak mau berkorban waktu
So, tetap belajar dan belajar. Ini beberapa hasil foto dg dslr dengan mode auto. Hahahaaaa...
Senin, 27 Oktober 2014
Happy Wedding, Mr Kogano and Ibna
| Maa, Mas, serius amat yak?? |
| aiiihh...penganten :) |
| Pasti nih lagi deg-deg-an yaaa |
| lhaa... kirain mantennya :p |
| bawa dagangan apa nih??? |
| aduuhh...nih tas talinya panjang amat yaaa, jd repot sayah |
| budhe, bulek, tante, adek, ayo ngumpuuulll |
| hehh..itu anake sopo yo??? |
| tiga generasi |
| mirip gaaaakkk???? |
| rumpi rumpi |
| eitss...ada yg sadar kamera |
Kamis, 26 Juni 2014
Japan -Happy B'day My Little S-
Searching lah si emak ini di google. Akhirnya dapet ide bikin Crepe cake ato mille crape buat b'day cake nya Si Anak. Kan ga butuh oven dan mixer. Saya pakai resep crepe-nya dari sini. Dengan beberapa modifikasi sana sini. Untuk cream nya saya pakai creamcheese dan whipcream dan gula dengan takaran suka-suka (timbangan jg ga ada).
Alhamdulillah, Si kecil dan Papanya suka kuenya. :)
Happy B'day, Anak. May Allah always be with you. Semoga menjadi anak solehah, selalu sehat, selalu bahagia dan selalu berkah hidupmu.
Kamis, 19 Juni 2014
Karena Perbedaan Itu Nyata Adanya
Tetiba saja dapat ide nulis ini ketika membaca status seorang teman di FB. Diana, menulis status seperti ini: " saling menghargai pilihan masing2 :)"
Terakhirnya pakai smile, berarti Diana gak sedang marah atau jengkel, hahahahaa...Maap nih, Di. Aq pinjem nama+statusmu. Ya kali nanti dikasih bronis #ngarep #belikaee
Saling menghargai. Kalimat simple yang sudah kita dengar sejak kecil. Pas jaman SD, ada pelajaran PMP, eh, sekarang masih ada gak sih pelajaran itu?. Di pelajaran itu saya kenal saling menghargai. Sebenarnya kalimatnya sederhana sekali kan? Tapi apakah kita semua, termaauk saya, bisa melakukannya?
Kita hidup di lingkungan dengan berbagai macam lapisan perbedaan, mulai dari perbedaan gender, perbedaan SARA, perbedaan latar belakang ekonomi, dan masih buuuanyak lagi kalau mau kita cari perbedaan-perbedaan yang ada. Nah, momennya sekarang ini kan sedang hangat-hangatnya Kampanye Pilpres. Dengan dua calon, pastinya ada yang mendukung nomor 1 dan mendukung nomor 2. Terus terang saya capek akhir-akhir ini tiap mantengin FB. Para pendukung jadi menjelek-jelekkan pihak satunya. Ada juga lho yang tiap hari bikin status mbelani si calon nomor sekian. Sampai-sampai saya tanya sama Mr. Misua, "Mas, mas, si Anu itu apane Pak xxx sih, kok kayaknya ngotot banget mbelaninya." Suami saya cuman senyum-senyum saja mendengar pertanyaan saya.
Saya dan suami punya pandangan yang sedikit berbeda tentang pilpres kali ini. Tapi kami menyikapinya biasa saja, justru ini sebagai pembelajaran bagi kami. Bagaimana kami bisa saling menghargai satu sama lain. Karena kami berbeda.
Sebenarnya, kalau mungkin saya berinteraksi dengan orang lain, juga akan bertemu yang pilihannya gak sama kayak saya. Berhubung tiap hari sekarang saya ketemunya sama orang-orang Jepun, jadinya gak merasakan aura perbedaan jagoan dalam masa pilres tahun ini. Tsshaahh.......
Terasanya pas buka socmed aja. Buka FB liat status si anu belain nomer sekian, si Ini nge-share link tentang nomer sekian. Sebenernya sih ga apa-apa juga sih ya, namanya menunjukkan kalau dianya pendukung jagoannya itu. Ya emang gak apa-apa, tapi gak apa-apa ini berubah jadi apa-apa adalah ketika mulai saling menjelek-jelekkan pihak lain. Saling buka aib pihak lain, lupa sama aibnya sendiri kali yaaa... Padahal kan, nanti, salah satu dari kedua calon itu akan jadi pemimpin kita. Gimana coba rasane dipimpin sama orang yang dulu kita hujat habis-habisan, kita hina habis-habisan. Kita sebar aib nya kemana-mana. Padahal kita juga belum tentu tahu kebenarannya.
Pernah juga memperhatikan fenomena nge-share link tentang salah satu calon, yang kemudian berakhir pada saling adu argumen antar teman, yang satu tersinggung atas ucapan temen yang satunya, dan yang satunya tetep ngotot pada pendapatnya. Dan yang nge-share link jadi gak enak ati, gegara kelakuannya yang mungkin gak ada niatan apa-apa, temen-temennya jadi berantem. Nah looo... (Buat yang ngerasa, maap yak :) )
Kalo menurut saya, seseorang akan bisa menghargai orang lain ketika orang tersebut menyadari adanya perbedaan. Jangan paksa orang lain untuk punya pandangan yang sama, untuk punya pendapat yang sama. Kalau misalnya mau mengajak orang lain untuk sependapat dengannya, baiknya gunakan cara-cara yang baik, untuk menghindari adanya pihak-pihak yang tersinggung. Ini menurut saya lho yaaa...Kan pasti diantara yang membaca tulisan ini punya pendapat yang tidak sama seperti pendapat saya :)
Jadi, kenapa harus saling menghargai? Ya karena perbedaan itu nyata adanya, Sodara-Sodara. Sekian.
Senin, 16 Juni 2014
Japan - Ueno Park & Ueno Zoo-
Kebun binatang Ueno ini bersih banget. Gak bau. Tapi kita juga punya lho kebun binatang yang nersih, yaitu Batu Secret Zoo. Jadi gak kalah kok kita sama Jepun. Heheheee
Ini beberapa fotonya, maapken kalo foto binatangnya sedikit. si emak merangkap tukang foto ini sibuk jadi guide buat si kecilnya, jd ga foto2 deh.
| Bagian depan setelah pintu masuk -Ueno Park- |
| Pintu gerbang Kebun binatang Ueno -Ueno Park- |
Sayang, pas ke sana Pandanya lagi pada bobok, gak bisa dibangunin. Zzzzz...Zzzzzz
Kalo ini suasana di taman, ada playground buat anak-anak juga lhoo..
| Tokyo National Museum |
Japan -Playground-
Playground selain bersih, juga banyak mainan, ada beberapa perosotan, jungkat jungkit, tempat bermain pasir, sampai buis beton. Persis seperti yang saya tonton di serial doraemon. Di sini juga dilengkapi oleh toilet dan keran air minum.
Pohon-pohon yang ada di sini sangat rindang, sehingga ketika cuaca sedang terik, anak-anak bisa tetap bermain dengan senang.
Selain anak-anak yang bermain di sini, baik beramai-ramai dengan teman sebayanya atau bersama orang tua mereka, kadang-kadang saya juga melihat orang-orang yang baru pulabg kerja duduk-duduk di kursi taman.
Seandainya di dekat rumah ada playground seperti ini, pasti tidak repot bawa anak ke arena bermain yang biasanya ada di mall. Tidak gratis. That's the point :)


